Jumat, 27 November 2015

Tugas 7 Ilmu Budaya Dasar - Seni Tradisi Lisan Khas Etnik Makassar : Sinriliq

Seni Tradisi Lisan Khas Etnik Makassar
Sinriliq
Wildayati Aulia
17515568
1PA12

Dalam masyarakat Makassar pada masa lalu tumbuh dan berkembang sejumlah cerita rakyat yang beredar. Cerita-cerita tersebut digemari oleh masyarakat. Dalam penuturannya, cerita ini diiringi oleh sejenis rebab yang dibawakan oleh si penutur. Rebab itu disebut Sinriliq. Pada masa kejayaannya, kesenian ini menjadi kesenian yang sering dijumpai pada setiap acara tradisional dalam masyarakat, seperti kawinan, sunatan, naik rumah baru, pesta panen dan lain sebagainya. Selain itu, tradisi lisan ini juga sering dipertunjukkan pada saat beristirahat setelah seharian bekerja dan ketika sedang ronda malam di kampong.

Menyebut nama siriliq sesungguhnya kata tersebut mengacu pada tiga hal; yang pertama adalah nama alat itu sendiri, dan yang kedua juga berarti sebuah tradisi bertutur atau bercerita dalam masyarakat etnik Makassar. Dalam bertutur teks-teks cerita dibawakan dengan berirama (berlagu) sambil diiringi dengan gesekan sinriliq.


Selain itu, sinriliq juga menunjuk pada teks-teks yang dibacakan yang berarti “cerita”, misalnya menunjuk “Sinriliqna Kappalaq Tallumbatua” yang berarti Cerita tentang Tiga Buah Kapal. Tradisi ini sering dipertunjukkan dalam berbagai acara dalam pesta-pesta adat atau hajatan dalam masyarakat. Biasanya pertunjukkan berlangsung hingga semalam suntuk.
Berdasarkan isi dan cara melagukannya sinriliq terbagi atas dua macam, yaitu Sinrilik Pakesok-kesok dan Sinrilik Bosi Timurung.

Sinrilik Pakesok-kesok adalah sinrilik yang dilagukan dengan iringan alat musik kesok-kesok (rebab). Isinya melukiskan tentang sejarah perjuangan dan kepahlawanan seorang tokoh. Bunyi alat musik gesek kesok-kesok yang mengiring pakesok-kesok/pasinrilik (orang yang memainkan alat musik kesok-kesok atau melagukan sinrilik) harus selaras dengan lagu dan isi, serta suasana cerita yang dibawakan.

Di Sulawesi Selatan, terdapat beberapa naskah yang berbentuk sinrilik. Naskah ada yang sudah dibukukan dan adapula yang belum, adapun naskah sinrilik yang dapat diiringi dengan kesok-kesok antara lain, Sinrilik Kappala’Tallumbatua, Sinrilik I Makdik Daeng Ri Makka, Sinrilik I Manakku’ Caddi-caddi dan lain sebagainya. Sinrilik ini isinya mengisahkan tentang perjuangan dan kepahlawanan di sela percintaan sang tokoh yang ditampilkan dalam cerita itu. Jenis sastra ini sangat menarik apabila dikreasi menjadi sastra pertunjukan.

Sinrilik Bosi Timurung adalah sinrilik yang dilagukan tanpa diiringi alat musik kesok-kesok, dan biasanya dilantunkan pada tempat yang sunyi di kala orang yang berada di sekelilingnya sedang tidur nyenyak. 
Sinrilik Bosi Timurung pada dasarnya berisi hal-hal sebagai berikut:
• Pujaan yang menggambarkan kecantikan seorang gadis dengan membandingkan keadaan sekelilingnya.
• Merindukan kekaasih yang menggambarkan kerinduan seorang jejaka terhadap gadis yang dicintainya.
• Beriba hari yang menggambarkan seorang yang sial atas segala usahanya, sehingga menjadi sengsara.
• Kesedihan yang menggambarkan kesedihan seseorang yang ditinggal oleh suaminya.

Dengan kata lain Sinrilik Bosi Timurung bila diistilahkan kedalam istilah anak muda jaman sekarang adalah sinrilik Curhat atau curahan hati seseorang yang hanya dia saja dan tuhannya yang mengetahuinya. Hehehe . . .

Sinrilik Bosi Timurung dapat juga dijadikan pelajaran atau nasihat yang berharga bagi orang yang menyimaknya, karena isinya menceritakan tentang ganjaran perbuatan yang baik dan siksaan terhadap perbuatan yang jelek diakhirat kelak. Sinrilik yang mengisahkan tentang hal-hal seperti ini biasanya dilantunkan pada saat kedukaan atau kematian sehingga dapat pula dijadikan sebagai hiburan bagi orang yang ditinggalkan. Acara ini dalam adat istiadat Makassar disebut dengan Ammaca kitta' yang pelaksanaannya dilakukan setelah Tadarrus AlQuran. Contoh Sinrilik Bosi Timurung adalah Kitta'na Tulkimak, Kitta'na Bodolo' Akherat, Kitta'na Jayalangkara dan lain sebagainya.

Sumber :
Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya. 2014. Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan: Jakarta.
http://lobelobenamakassar.blogspot.co.id/2011/12/sinrilik-karya-sastra-unik-dari-kota.html
http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/2308/sinriliq-seni-tradisi-lisan-khas-etnik-makassar

Tugas 6 Ilmu Budaya Dasar - Kepercayaan Magis Masyarakat Melayu Riau Terhadap laut

Kepercayaan Magis
Masyarakat Melayu Riau Terhadap laut
Wildayati Aulia
17515568
1PA12

Sebagian besar hingga 95,79% dari luas propinsi Riau terdiri atas perairan. Selain itu kondisi alam yang dihuni oleh Masyarakat Melayu Riau yang secara administrasi berada di dalam wilayah Propinsi Riau ini tidak cocok untuk bercocok tanam. Maka kebudayaan Masyarakat Riau terutama Melayu Riau tergolong dalam masyarakat Laut. Maka tak heran jika mereka memiliki kepercayaan terhadap hal-hal bersifat mitos yang berkaitan dengan laut.

Sopher (1977) dalam Koentjaraningrat (1993) pernah menyatakan bahwa religi yang mengatur perilaku orang Laut mengandung konsep dasar animisme-shamanisme, tetapi tidak meliputi semua aspek kehidupan mereka. Keyakinan mengenai hal-hal yang bersifat gaib mempengaruhi perilaku menanggapi ruh-ruh, kekuatan-kekuatan gaib, hari baik dan naas, hantu-hantu, mambang dan peri, dan sekaligus mencerminkan kekhawatiran mereka terhadap berbagai ancaman dunia gaib yang dapat merugikan atau mencelakakan kehidupan mereka.

Namun sebenarnya yang dikatakan kepercayaan dalam masyarakat melayu itu bukan hanya dalam kepercayan lama saja yang menjadi peninggalan masa lampau seperti animisme, tapi juga kepercayaan yang datang setelahnya, seperti kepercayaan agama agama hindu, budha dan Islam sendiri. Dimana Islam yang datang terakhir mengakomodir semua unsur kebudayaan tersebut secara perlahan, serta melakukan penelusuran terhadap hal-hal yang bertentangan dengan Islam.


Oleh karenanya orang Laut masih percaya akan kekuatan gaib, yang antara lain bersumber pada benda-benda seperti buntat, batu akik, akar bahar, keris dan sebagainya, dan pada benda-benda yang bersumber pada manusia. Bomoh atau dukun dianggap memiliki kekuatan gaib, yang dapat digunakan untuk tujuan baik maupun buruk, mencelakakan lawan, atau menghalau serangan lawan, serta menyembuhkan penyakit yang berasal dari perbuatan manusia maupun karena tersampuk atau “kemasukan” atau diganggu ruh, hantu, dan sebagainya. Dengan kekuatan gaibnya, seorang bomoh dianggap mampu mengatasi gejala-gejala alam yang merugikan manusia, seperti menenangkan ombak dan badai.

Orang Laut juga percaya akan hantu-hantu penunggu sesuatu tempat, mambang dan peri, yakni makhluk-makhluk halus penghuni tempat-tempat yang dianggap angker dan dapat mencelakakan orang. Hampir semua orang Laut yakin bahwa ruh Datuk Kemuning dan isterinya, yaitu saka (leluhur) datuk-moyang orang Laut, bersemayam di Gunung Daik (Lingga). Ruh-ruh para anggota keluarga berada di tanjung, di pantai, kuala, suak, atau di bukit-bukit berbatu. 
Mereka selalu membayangkan hantu seperti hal nya manusia. Mereka menyebutnya sebagai; “orang tanjung”, “orang tanah”, “orang lekuk”, dan lain-lainnya. Di samping itu mere pun memiliki sebutan-sebutan terhadap “hantu laut”, “hantu batu”, “hantu jeram”, “hantu sungai”, dan sebagainya. Hantu-hantu tersebut di atas memang berasal dari dunia makhluk hantu.

Selain itu ada hantu yang merupakan penjelmaan manusia atau hantu jejadian, seperti hantu polong atau hantu pencekik leher, yang menjelma sebagai manusia yang mengamalkan “ilmu pengasih”, yaitu berusaha memikat korbannya untuk ditumbalkan agar penampilannya senantiasa tampak menarik. Hantu penjelmaan manusia lainnya adalah pontianak atau hantu mati anak, yaitu hantu penjelmaan wanita yang meninggal dunia sewaktu melahirkan, keberadaanya senantiasa mengganggu pria.

Kemudian orang Laut juga masih mengenal hantu dukang, atau hantu pengisap darah, yang merupakan penjelmaan dari bayi yang lahir tanpa nyawa atau karena keguguran, lahir mati, dan sebagainya. Orang laut memberikan sesaji (Tuka Ganti) jika ada orang yang hilang atau sakit.

Masyarakat Talang Mamak mempercayai Patalla Guru. di samping mereka juga percaya pada Yang Mahakuasa yang mengatur seluruh jagat raya (dunia). Talang Mamak mengenal juga nama Allah, hal ini dapat dilihat dari mantera-mantera atau kata-kata mereka yang diucapkan selesai menguburkan mayat atau dalam upacara pengobatan. Masyarakat Talang Mamak mempunyai pula upacara Adat Kumantan. Kegiatan ini merupakan sarana komunikasi antara patalla Guru dengan roh-roh jahat. 

Kumantan juga menyampaikan dan mengemukakan macam kehendak Patalla serta kemauan dan permintaan roh-roh gaib, termasuk Patalla itu sendiri. Menurut kepercayaan mereka, kumantan sangat dekat dengan yang gaib serta dapat berhubungan dengan yang gaib itu. Kumantan dapat juga menolong roh orang yang baru meninggal, menunjukkan jalan baginya di dalam gaib itu. Talang Mamak juga percaya bahwa setelah mati manusia akan menjalani kehidupan yg lain. Kumantan dapat memanggil Patalla dan roh-roh gaib yg lain dengan mengadakan upacara tertentu. Roh gaib atau Patalla akan datang dan menjelma masuk ke dalam dirinya (kumantan). Saat seperti itulah kumantan berkata-kata menyampaikan atau tuntutan roh gaib itu.

Sumber :
http://sahabatsatucinta.blogspot.co.id/2014/04/laut-dan-kepercayaan-magis-masyarakat_13.html
http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/1322/laut-dan-kepercayaan-magis-masyarakat-melayu-riau

Tugas 5 Ilmu Budaya Dasar - Wayang

Wayang
Wildayati Aulia
17515568
1PA12

Wayang dikenal sebagai salah satu kekayaan budaya yang dimiliki oleh  Indonesia. Bagi masyarakat kita , seni pertunukan tersebut sangat dekat dengan kehidupan terutama masyarakat Jawa dimasa lampau. Cerita yang diangkatnya menjadi referensi hidup kebanyakan masyarakat dan nama-nama tokohnya banyak digunakan untuk menamai anak misalnya  Sinta, Sekartaji, Permadi, Pandu, Rama, Bima dll. Pementasan wayang pun masih banyak dilakukan dalam berbagai acara, bahkan sering menjadi wajib hukumnya jika dikaitkan dengan ritus-ritus tertentu seperti ruwatan . Tidak dipungkiri bahwa keberhasilan wayang menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat karena ia menjalankan fungsinya sebagai hiburan.


Mengenai asal-usul wayang ini, di dunia ada dua pendapat. Pertama, pendapat bahwa wayang berasal dan lahir pertama kali di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Timur. Pendapat ini selain dianut dan dikemukakan oleh para peneliti dan ahli-ahli bangsa Indonesia, juga merupakan hasil penelitian sarjana-sarjana Barat. Di antara para sarjana Barat yang termasuk kelompok ini, adalah Hazeau, Brandes, Kats, Rentse, dan Kruyt.

Alasan mereka cukup kuat. Di antaranya, bahwa seni wayang masih amat erat kaitannya dengan keadaan sosiokultural dan religi bangsa Indonesia, khususnya orang Jawa. Panakawan, tokoh terpenting dalam pewayangan, yakni Semar, Gareng, Petruk, Bagong, hanya ada dalam pewayangan Indonesia, dan tidak di negara lain. Selain itu, nama dan istilah teknis pewayangan, semuanya berasal dari bahasa Jawa (Kuna), dan bukan bahasa lain.

Sementara itu, pendapat kedua menduga wayang berasal dari India, yang dibawa bersama dengan agama Hindu ke Indonesia. Mereka antara lain adalah Pischel, Hidding, Krom, Poensen, Goslings, dan Rassers. Sebagian besar kelompok kedua ini adalah sarjana Inggris, negeri Eropa yang pernah menjajah India.

Pada jaman dahulu, sumber hiburan tidaklah sebanyak saat ini. Masyarakat menikmati hiburan  ketika pihak kraton mengadakan pertunjukan atau pentas seni yang dibuka untuk umum, antara lain tari dan  wayang. Bahkan bangunan kraton kerap memiliki area khusus  untuk sebuah pertunjukan wayang  biasanya di antara Pendopo dan bangunan utama.

Akan tetapi berbeda dengan hiburan yang berkembang saat ini yang melupakan aspek pendidikan dan pengajaran, wayang berhasil memadukan dua fungsi yaitu fungsi pendidikan dan hiburan. Nilai-nilai dan ajaran berhasil tersampaiakan dengan cara yang menarik dan menyenangkan.
Bentuk hiburan pada wayang umumnya terletak pada kekonyolan-kekonyolan beberapa tokoh yang diselipkan dalam tokoh-tokoh serius , banyolan dalang dan kecerdikannya (melalui tokoh wayang) mengajak penonton untuk menertawakan diri sendiri dan keadaan sosial. Selain aluanan musik gamelan dan sinden yang mengiringi pementasan wayang.

Meski banyak dibumbui banyolan pada tokoh-tokohnya, nilai-nilai selalu terselip didalamnya. Dalam keseluruhan ceritanya mengandung  unsur epistimologi atau falsafah makna, etik atau  pandangan-pandangan moral, bahkan spiritual yang menjadi inti sari pesan cerita dalam pertunjukan wayang.

Sumber :
http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/2291/wayang-tontonan-dan-tuntunan
https://i.ytimg.com/vi/XulkdSH7VOQ/maxresdefault.jpg

Tugas 4 Ilmu Budaya Dasar - Kebudayaan 3D dari Sumatera Barat : Indang Pariaman, Kesenian Tiga Dimensi

Kebudayaan 3D dari Sumatera Barat
Indang Pariaman, Kesenian Tiga Dimensi
Wildayati Aulia
17515568

Indang berasal dari Aceh. Adapula yang berpendapat bahwa Indang dibawa oleh orang Minangkabau yang hendak memperdalam agama Islam ke Aceh, Pono namanya. Pono dikenal sebagai Syekh Burhanuddin. Pada awal abad ke-17, Pono pergi ke Aceh untuk memperdalam ilmu Islam. Ia pun berguru pada Syekh Abdurauf yang berasal dari Barus. Selama kurang lebih 14 tahun, Pono belajar dan menjadi murid kesayangannya. Syekh Aburauf memberi nama Burhanuddin kepada Pono. Ia juga memerintahkan beberapa orang untuk mengawal Pono untuk kembali ke negara asalnya.

Setelah kembali ke kampung, Syekh Burhanuddin menemukan benda yang bertuliskan Rabbana. Rupanya benda tersebut adalah milik salah seorang pengawalnya yang tertinggal. Pada bagian dalamnya tertulis kalimat tahuid dan kalimat rasul serta pada bagian tengahnya tertulis nama Tuanku Ripa’i. Rebana peninggalan Tuanku Ripa’i ini pun diperbanyak.

Bahan Rebana itu berasal dari batang nangka dan kulit kambing yang disembelih menurut ajaran Islam. Itulah asal muasal permainan Indang di Tanjung Medan Ulakan Kabupaten Padang Pariaman yang kemudian menyebar dan disenangi masyarakat.


Permainan Indang biasanya dilakukan sambil duduk berdampingan, berderet antara 9-25 orang, jumlahnya biasanya ganjil. Orang yang turut berperan penting dalam Indang adalah Tukang Dikir yang berfungsi sebagai penyanyi tunggal yang kemudian diikuti oleh seluruh pemain. Serta adapula Tukang Alih yang berfungsi untuk mengubah gerakan yang satu kepada gerakan yang lain dan mengubah cara pukulan ripai yang dipegang oleh para pemain.

Indang Piaman merupakan Indang yang paling populer di Sumatera Barat. Salah satu kekhasan Indang ini adalah selalu dimainkan pada malam hari dan dibawakan oleh 3 kelompok dari 3 desa yang berbeda. Ketiga grup duduk dalam posisi segitiga. Mereka memiliki sebuah tema atau masalah yang hendak didiskusikan. Sebelum permainan dimulai diadakan persetujuan terlebih dahulu grup mana yang akan memulai permainannya.

Pertunjukkan Indang menampilkan tiga kelompok penyaji, yaitu: kelompok pangka (tuan rumah) dan dua kelompok alek (tamu). Satu kelompok Indang terdiri dari 8-22 pemain laki-laki, seorang sebagai tukang dikir (creator) dan anak Indang.

Satu kelompok penampil akan mempresentasikan materi pembukaan (permintaan izin dan kerelaan), manasik (kaji keislaman), pasambahan (sapaan dan permintaan maaf dan lainnya), rundiangan (pertanyaan, jawabanm dan pertanyaan lanjutan), penutup (permintaan untuk dijawab).

Indang merupakan kesenian tiga dimensi yaitu musik, tari, dan resitasi. Pemain menari sambil menyanyikan syair diiringi instrument rapa’I (rebana ukuran kecil). Teks resitasi bersumber dari Al Quran, riwayat nabi Muhammad, riwayat syekh, dan kajian sifat Allah nan duo puluh.

Sumber :
http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/2311/indang-piaman-kesenian-tiga-dimensi
https://www.google.com/search?q=PERMAINAN+INDANG+PARIAMAN&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwifuLmEuK_JAhXSG44KHSQgAJ0Q_AUICCgC&biw=1366&bih=633#imgrc=ewTvls_JpYb_3M%3A

Selasa, 17 November 2015

Tugas 3 Ilmu Budaya Dasar - Kebudayaan Malam Bainai

Kebudayaan Malam Bainai
Wildayati Aulia
17515568
1PA12

Sebuah lagu minang terkenal berjudul malam bainai, melukiskan betapa meriahnya suatu upacara perkawinan di Minangkabau. Secara harfiah “bainai “ artinya melekatkan tumbukan halus daun pacar merah yang dalam istilah Sumatera Barat disebut daun inai ke kuku-kuku jari calon pengantin wanita. Tumbukan halus daun inai ini kalau dibiarkan lekat semalam, akan meninggalkan bekas warna merah yang cemerlang pada kuku. Lazimnya dan seharusnya acara ini dilangsungkan pada malam hari sebelum keesokan paginya calon anak daro melangsungkan akad nikah.

Busana khusus untuk upacara bainai yakni baju tokoh dan bersunting rendah. Perlengkapan lain yang digunakan antara lain air yang berisi keharuman tujuh kembang, daun iani tumbuk, payung kuning, kain jajakan kuning, kain simpai dan kursi untuk calon mempelai.


Menurut kepercayaan zaman dahulu, kegiatan memerahkan kuku-kuku jari calon anak daro ini juga mengandung arti magis. Ujung-ujung jari yang dimerahkan dengan daun inai dan dibalut daun sirih, mempunyai kekuatan untuk melindungi si calon anak daro dari kemungkinan ada manusia yang iri dengan si calon anak daro. Riwayat acara bainai yaitu pada mulanya memasang inai tidak saja upaya menampilkan kecantikan pada bagian dari anggota tangan anak daro, namun juga menurut kepercayaan kat zaman dahulu. Kuku-kuku yang telah diberi pewarna merah yang berarti juga selama ia berada dalam kesibukan menghadapi berbagai macam perhelatan perkawinannya itu ia akan tetap terlindung dari segala mara bahaya.


Setelah selesai melakukan pesta-pesta, warna merah pada kuku-kukunya menjadi tanda kepada orang-orang lain bahwa ia sudah berumah tangga sehingga bebas dari gunjingan kalau ia pergi berdua dengan suaminya kemana saja.

Saat kini, kepercayaan kuno yang tak sesuai dengan tauhid Islam ini, sudah ditinggalkan. Sekarang memasang inai, merupakan bagian dari perawatan dan upaya menampilkan asesoris kecantikan anak daro, dan tidak lebih dari itu. Memerahkan kuku jari, tidak memiliki kekuatan menolak mara bahaya apa pun, karena perlindungan diri dari pengaruh jahat yang mengancam si anak daro, berada pada kekuasan Allah SWT.

Pada kesempatan upacara memasang inai ini, setiap orang tua yang diminta untuk melekatkan inai ke jari calon anak memberikan nasehat secara berbisik ke telinga calon anak daro. Bisikan-bisikan itu bisa berlangsung lama, bisa sangat singkat. Nasehat-nasehat yang sangat rahasia mengenai kehidupan berumahtangga, atau bisa juga hanya sekedar gurau agar si calon anak daro tidak cemberut saja dihadapan orang ramai. Pelaksanaan acara akan dipimpin oleh seorang pemandu yang mampu menhidupkan acara ba – inai.

Di daerah Pariaman wanita yang memandu acara disebut uci-uci, untuk daerah nagari lain, pemandu acara mungkin dilakukan oleh amai – amai atau mande-mande sesuai dengan kebiasaan setempat. Seringkali juga pada malam bainai ini acara dimeriahkan dengan menampilkan kesenian-kesenian tradisional Minang.

Di wilayah pesisir meliputi Painan, Padang – Pariaman hingga Lubuk Basung, hiburan yang ditampilkan ialah musik gamat dengan irama musik Melayu serta disertai joget Melayu Deli. Semua acara ini mengundang tamu agar secara spontan tegak menari bersama. Dengan menggunkan selendang-selendang, penari wanita akan mengajak kaum pria agar menari melayu secara bersama.


Senin, 16 November 2015

Tugas 2 Ilmu Budaya Dasar - Kebudayaan Selfie

Kebudayaan Selfie

1. Apa itu selfie??
Menurut Wikipedia 2014 Selfie adalah kependekan dari “Self-potrait photograph” atau photo yang diambil sendiri, biasanya diambil dengan kamera telepon genggam atau kamera genggam dan diambil secara vertical.

2. Sejarah selfie
Siapa dan photo selfie mana yang pertama??
mungkin kita bisa mengacu pada photo Robert Cornelius – Sang penemu camera pada tahun 1839, tapi hal ini juga masih banyak menjadi bahan perdebatan, termasuk keraguan yang diungkapkan oleh Dr. Michael Pritchard; Akhli sejarah sekaligus direktur Royal Photographic Society yang meragukan apakah photo Robert Cornelius mengambil photo itu sendiri atau diambil dengan bantuan asistennya.

“Nampaknya photo selfie pertama baru lahir beberapa tahun kemudian, mengingat kamera dengan timer otomatis baru diketemukan sekitar tahun 1880. beberapa kamera juga dilengkapi dengan kabel panjang yang memungkinkan penggunanya menekan tombol dari jarak yang dibutuhkan”, unggkap Dr. Michael Pritchard.

3. Bagaimana selfie saat ini?
Munculnya genersi Smartphone dengan kamera depan bisa jadi merupakan awal meningkatnya budaya selfie yang berkembang dan menyebar dengan sangat cepat ditengah masyarakat. Cuma dibutuhkan beberapa detik untuk mengambil photo dan menyebarkannya di media sosial yang akan dilihat oleh ratusan, ribuan bahkan mungkin jutaan orang pada saat yang sama di tempat dan situasi yang berbeda. Kalau anda melanjutkan membaca, anda akan tahu baik dan buruknya “Selfie” dalam tulisan berikut.

Kemudahan akses internet dan menjamurnya media sosial menjadikan budaya ini demikian mudah menyebar. Siapa saja bisa melakukan selfie. Mulai dari pembantu rumah tangga, anak sekolah, eksekutif kantoran bahkan selebritis yang photo-photonya sudah sangat sering di muat di media. Rihanna, Justin Bieber, Madonna dan Lady Gaga pun dikenal sebagai selebriti yang suka selfie dan rajin meng-upload photo selfienya di media sosial.

4. Dampak buruk dari selfie
Obsesi selfie yang belebihan juga bisa mengakibatkan kelainan jiwa yang serius seperti yang dilansir oleh media online mirror.co.uk. Danny Bowman seorang remaja beruia 19 tahun menjadi demikian terobsesi untuk ber-selfie-ria sehingga dia bisa menghabiskan 10 jam tiap harinya dengan mengambil kurang lebih 200 photo dirinya demi untuk mendapatkan photo selfie yang sempurna.

Sebuah obsesi yang dipicu oleh keinginan untuk membuat para remaja putri tertarik kepadanya. Juga kepercayaan palsu bahwa penampilan yang sempurna adalah modal utama untuk mendapatkannya. Karena gagal mendapatkan photo selfie yang dianggapnya sempurna dia mencoba melakukan bunuh diri dengan meminum pil hingga overdosis. Beruntung dia bisa diselamatkan oleh Ibunya.
“Saya terus menerus berusaha mendapatkan photo selfie yang sempurna dan saat saya tidak juga mendapatkannya, saya ingin segera mengakhiri hidup. Saya kehilangan teman, pendidikan, kesehatan dan hampir saja kehilangan hidup saya”, katanya.

Saat kita mendapatkan sesuatu yang hebat dan patut dirayakan – apa yang biasa kita lakukan? Kita ber-selfie-ria dan meng-uploadnya agar tiap orang bisa melihatnya. Menyenangkan rasanya mendapati orang terkagum-kagum menyaksikan keberhasilan kita. Tapi dunia ini tidak beredar disekelilingmu sendirian, harus selalu ada batasan antara yang sedekar ingin berbagi atau menyombongkan diri pada tiap orang disetiap kesempatan.