Kamis, 03 Desember 2015

Tugas 10 Ilmu Budaya Dasar - Batagak Panghulu Sumatera Barat

Batagak Panghulu Sumatera Barat
Wildayati Aulia
17515568
1PA12

Batagak Pangulu merupakan upacara adat Minangkabau Untuk menngankat pinpinan sebuah suku .yang diadakan besar-besaran Yang dengan memotong kerbau. Pada dasarnya  Minang kabau sukunya berdasarkan garis keturunan  Ibu itu lah sebab nya Minangkabau sering disebut Adanya Istilah Bundo kanduang (Bunda Kanduang).Untuk setiap anak kepada Paman nya yang samasuku biasanya di panggil dengan Mamak.


Mamak bisa jadi dari Saudara  Ibu /mama. Misalkan Mama kita punya saudara laki ‘Maka anaknya bisa memanggilnya ‘dengan sebutan Mamak. Sedangkan Istilah Pangulu adalah merupakan pinpinan dari satu suku yang sama. dalam  Pengangkatan nya biasa nya diadakan pesta. dengan sebutan BATAGAK PANGULU. Artinya   acara pengangkatan Pangulu (Kepala Adat) yang dihadiri oleh beberapa suku ,serta perangkat pemerintahan seperti wali jorong (Kepala Desa), seterusnya wali nagari,Bahkan pejabat pemerintahan Bupati.lama nya acara perhelatan pangulu ini minimal 3 hari atau bahkan 7 hari. Seru bukan..’.”disana kita dapat melihat antraksi Adat yang biasa di sebut Tarian Randai ,Silat , yang lebih serunya acara bararak maksudnya atau jalan -jalan mengelilingi desa menggunakan Bendi (Delman).

Sumber :
https://angrian.wordpress.com/2010/01/16/batagak-pangulu/
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEipNsGq0H5WDOuyvsZsAjn6285eOzFSX06Xswgjaz8cYxlyqQ8jzdwrW2nLT2ICczzN4psCbwwBX_xFyO0ifLVlmceCEkE_myPpVZ2hwhacS3EVJ2iTpmVwxNoCkThOnBrUMbwLnVdn9G4/s1600/xx.gif

Tugas 9 Ilmu Budaya Dasar - Tradisi Malamang di Sumatera Barat

Tradisi Malamang di Sumatera Barat
Wildayati Aulia
17515568
1PA12

Malamang sekilas tak ada istimewanya, karena hanya berartikan memasak lemang. Lemang sendiri adalah penganan khas dari Sumatera Barat yang terbuat dari adonan beras ketan putih dan santan yang dimasukkan ke dalam bambu. Bambu tersebut sebelumnya dialasi dengan daun pisang dan kemudian di panggang di atas bara api. Biasanya lemang di sajikan dengan tapai atau ketan hitam yang sudah difermentasikan.

Namun, bagi masyarakat Sumatera Barat, malamang merupakan suatu tradisi. Tradisi ini biasanya dilakukan di saat hari-hari tertentu, seperti hari besar keagamaan atau memperingati hari kematian. Contohnya masyarakat Pariaman Sumatera Barat, biasanya melaksanakan tradisi malamang pada saat acara Maulid Nabi.


Berdasarkan informasi yang dihimpun, tradisi ini lahir tak lepas dari peran Syekh Burhanuddin, Ulama asal Pariaman. Saat itu Syekh Burhanuddin melakukan perjalanan ke daerah pesisir Minangkabau untuk menyiarkan agama Islam, terutama di daerah Ulakan, Pariaman.

Menurut Tambo (kisah yang meriwayatkan tentang asal usul dan kejadian masa lalu yang terjadi di Minangkabau), saat itu Syekh Burhanuddin rajin berkunjung ke rumah-rumah penduduk untuk bersilaturrahmi dan menyiarkan agama Islam. Oleh warga, beliau sering disuguhi makanan. Namun, sepertinya Syekh Burhanuddin agak meragukan kehalalan makanan yang dihidangkan. Dia pun menyarankan kepada setiap masyarakat yang dikunjunginya agar mencari bambu, lalu mengalasnya dengan daun pisang muda. Beras ketan putih dan santan lalu dimasukan ke dalamnya, kemudian dipanggang di atas tungku kayu bakar.

Kegiatan malamang sendiri biasanya dilakukan bergotong royong dengan pembagian tugas pencari bambu sebagai tempat adonan, pencari kayu bakar untuk memanggang, penyiapan pada bahan-bahan untuk membuat lemang, dan lainnya. Biasanya lemang dibuat dalam jumlah banyak dan disajikan untuk kudapan dalam acara Maulid Nabi di surau-surau.

Menurut Idar (31), perantau asal pariaman, di kampungnya malamang itu sudah menjadi keharusan yang dilakukan saat menyambut hari besar keagamaan. "Kalau Maulid Nabi tanpa malamang, ada yang kurang," jelasnya saat dihubungi merdeka.com, Kamis (8/5).

Idar melanjutkan, tradisi malamang sendiri sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan sampai sekarang masih dilakukan oleh kebanyakan kampung-kampung di Pariaman.

Terlepas dari kegiatan malamang, lemang yang merupakan kudapan khas Sumatera Barat ini selalu dihidangkan dengan tapai atau ketan hitam/ketan merah yang difermentasikan. 

Di Jakarta sendiri, penjual lemang dapat kita jumpai di daerah Senen Jakarta Pusat. Biasanya, penganan ini ramai dijajakan di bulan Ramadan di sepanjang Jalan Kramat Raya, Senen. Penjualnya tentu perantau asal Minang.

Sumber :
http://www.merdeka.com/peristiwa/cerita-tradisi-malamang-dari-sumatera-barat.html
http://sutanmudo.web.id/foto_berita/28malamang.jpg

Tugas 8 Ilmu Budaya Dasar - Tradisi Makan Bajamba di Minangkabau

Tradisi Makan Bajamba di Minangkabau
Wildayati Aulia
17515568
1PA12

Makan Bajamba adalah tradisi makan bersama dalam satu piring besar, tradisi ini sudah turun temurun sampai sekarang di Minangkabu. Adapun tujuan dari Makan Bajamba adalah untuk meningkatkan silahturahmi dan kebersamaan satu suku dengan suku lain serta sesama warga di dusun, jorong dan Nagari. Makan Bajamba biasanya diadakan pada pesta pernikahan, pada helat Batagak Panghulu (Malewakan gala) atau diwaktu gotong royong dan acara lainnya.

Biasanya sebelum Makan Bajamba dimulai, para janang ditanyai oleh silang nan bapangka (tuan rumah), apakah hidangan pada masing-masing jamba sudah betul-betul cukup. Karena pada dasarnya tiap jamba, baik sambal/lauk pauk, air minum di gelas dan di cerek hendaknya sudah tersedia di tempat. Begitu juga nasi tambah sudah terhidang pula.


Makan Bajamba mempunyai sopan santun atau etika tersendiri. Tamu yang ikut makan bajamba haruslah ditempatkan sesuai dengan fungsinya, seperti sumando (ipar) mamak rumah (tuan rumah) kawan samo gadang (teman sepermainan) dan lain sebagainya. Menyuap nasi tidak boleh dengan genggaman yang besar, mengambil nasi haruslah dengan ujung jari. Agarnya nasi tidak berserakan (rimah) ada baiknya nasi dikepal dulu sebelum dimakan. Demikian juga ketika tangan kanan menyuap, tangan kiri sudah bersiap-siap dibawah dagu dengan maksud menampung serakan nasi.

Kemudian Makan Bajamba dilaksanakan secara bersama-sama. Makan Bajamba bagi laki-laki duduk bersila di atas lantai mengeliling talam (biasanya juga memakai daun pisang) dan saling berhadapan. Dan bagi yang perempuan duduk bersimpuh, juga saling berhadapan. Makan Bajamba paling banyak 6 orang ditiap kelompok termasuk janang untuk menambah nasi dan lauk pauk kalau dirasakan kurang.

Penyelenggaraan Makan Bajamba ini sangat elastis, Makan Bajamba tidak mesti di atas tikar permadani tetapi juga boleh diatas tikar pandan atau tikar anyaman, atau pun plastik. Sesuai dengan kemampuan "nan dalam basikaram, nan dangka basijengkeng"

Sumber :
http://www.jeraminews.com/2015/03/tradisi-makan-bajamba-di-minangkabau.html